SECERCAH HENING
Rabu, 4 Desember 2024
Mat 15: 29-37
“Hati tergerak”
Hati terbius oleh realita,
Terpana gerak hati yg menyapa,
Mendorong bukan oleh kata,
Bertindak dari hati yg mencinta.
Dunia bisa berubah, oleh banyak hati yang tergerak. Perubahan yg saya maksudkan tentu perubahan yg positif.Saat ini jelas sekali Tuhan tidak punya tangan, kaki, telinga, mata lagi untuk menyelamatkan dunia dan manusia seperti dua ribu tahun yg lalu. Tetapi Tuhan punya Roh Kudus mampu menembus dan menggerakkan hati setiap orang untuk berbuat kebaikan bagi sesama dan dunia. Hanya saja apakah setiap orang masih punya kepekaan untuk bisa ditembus oleh pergerakan Roh Kudus. Karena pergerakan Roh Kudus jaman ini bisa mudah tertimbun oleh gerakan lain yg lebih dasyat menguasai hati manusia. Seperti dalam Injil hari ini :
Yesus memanggil para murid-Nya dan berkata:”Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan”… Dan Yesus berkata :”Berapa roti ada padamu? “.
Yesus tergerak oleh belaskasihan karena banyak orang lapar mengikuti-Nya, dan gerakkan belas kasih yg sama diresonansikan kepada para murid-Nya, agar mereka juga mengalami ketergerakan hati oleh belas kasih. Namun ternyata soal hati tidak semua orang memiliki frekuensi ketergerakan hati yg sama. Para murid tidak juga langsung teresonansi oleh belas kasih Yesus, tetapi justru malah protes. ” Bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti yg mengenyangkan orang yg begitu besar jumlahnya?. Inilah sikap populer yg sering kali juga kita lakukan. Manakala pilihan sikap membawa sebuah resiko besar yg pertama kita lakukan adalah mengeluh, mengaduh dan memprotes. Kita begitu mudah kehilangan harapan dan kepastian bahwa jika Roh bekerja maka tidak akan setengah setengah. Masalahnya kita sendiri gamang dengan suara batin kita sendiri. Ketergerakan hati yg matang dan jitu mampu melahirkan action yg jitu pula. Untuk hal itu butuh kepekaan mendengar suara Tuhan, melalui keheningan, self talk dan disposisi batin yang dibangun dengan kerelaan menyediakan waktu untuk mendengarnya. Pergandaan roti dan ikan tidak dimulai dengan gerakan heroik tetapi dimulai dengan ketergerakan hati. Apakah kita masih peduli dengan ketergerakan hati jika ya. Mari kita wujudkan dalam aksi.
Contemplating
Mari kita heningkan jiwa, raga,rasa, hati, budi dan hati agar mudah di gerakkan Allah untuk melipat gandakan kebaikan bagi dunia di sekitar kita.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah agar makin peka dengan ketergerakan hati kita.
Reflecting
Apakah hidupku setiap hari berjalan dari hati yg tergerak…
Praying
Allah Bapa di surga berilah kami hati yg damai dan bahagia. Agar tiap saat adalah saat yg tepat untuk mewartakan khabar sukacita Injil dalam kehidupan kami tiap hari. Demi Kristus Putera-Mu Tuhan dan pengantara kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP





Recent Comments