SECERCAH HENING
Sabtu, 11 Januari 2025

Yoh 3 : 22-30

“Sukacita”

Menyelinap dlm hening,
Melihat dengan bening,
Tiap titian mbuat eling,
Hingga hati jd wening.

Saat menanti senja,
Menepis kegalauan,
Menata hati dlm sepi,
Saat merenda syukur.

Jiwa perintis bersukacita,
Persahabatan kian erat,
Undur diri dari polularitas
Memeluk sukma bahagia

Hal apa yg biasanya membuat kita penuh sukacita ?. Pada umumnya kita sukacita karena dicintai,dihargai, sukses dalam usaha,sukses dalam study,sukses dalam menjalin relasi, sukses dalam membina rumah tangga yg sejahtera, sukses dalam karier,dan seabrek penghargaan yg kita terima.Dan sangat jarang kita bersukacita ketika kita ditinggalkan, diabaikan,kurang diperhitungkan, direndahkan bahkan dianggap tidak ada. Namun bagi seorang Yohanes sukacita hidupnya dialami ketika orang lain makin besar dan dirinya makin kecil. Seperti dalam bacaan Injil hari ini:

Yohanes berkata:”Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh,Ia harus makin besar tetapi aku harus makin kecil”.

Sukacita Yohanes sangat tidak lazim bagi manusia jaman ini yg getol mencari prestise diri dan popularitas.Karena Yohanes sungguh bersukacita ketika orang lain makin besar, sukses dalam karya dan lebih berpengaruh dibanding dirinya yg justru merintisnya. Inilah jiwa seorang perintis dan pewarta di jalan kebenaran. Sukacitanya diletakkan pada kemuliaan dan kehebatan Tuhannya. Ia tidak merasa hancur karena tidak dihargai, tidak dipuji,tidak disapa,tidak dihiraukan,tidak diikuti lagi,tidak dianggap ada dan makna sejenis. Karena kebahagiaannya ada pada kebesaran Tuhan bukan kemuliaan dirinya. Sukacita Yohanes diletakkan pada nilai dan rancangan hidup yg di selaraskan dengan Tuhan atau sefrekuensi dengan rancangan Allah meski akibatnya harus mengalahkan atau mengecilkan eksistensi dirinya sendiri.
Dan pesan inilah yg juga diperuntukkan bagi kita, supaya sukacita dan kebahagiaan kita dalam hidup bukan lagi diukur oleh ada tidaknya penghargaan bagi kita, sukses, kelimpahan materi dan semua berkat yg spektakuler, tetapi yg paling esensial adalah sukacita yg ditemukan karena pengalaman bersama Tuhan yg makin dimuliakan dan makin berjaya dalam hidup kita. Marilah kita tidak berkecil hati dan kehilangan sukacita manakala kita harus mengalami direndahkan, kadang kurang dihargai, kurang diperhatikan. Mari kita belajar memandang segala realitas dalam konteks sefrekuensi atau sepandangan dengan rancangan Allah sendiri. Semoga hari ini kita tidak kehilangan sukacita. Sebab sukacita bukan semata mata kegembiraan saja. Tetapi bisa jadi mengambil bentuk deraian air mata kesedihan, namun perasan air mata kita membawa kedamaian, kelegaan, dan makna hidup yg makin dalam. Itulah sukacita atau konsolasi krn prakarsa Allah sendiri yg hadir. Sukacita yg demikian membuat kita makin dekat dengan Allah, makin hidup berkualitas, dan membawa vibrasi kebaikan dan sukacita yg sama bagi sesama. Orang yg mudah bersukacita biasanya orang yg dekat dengan Sang sumber sukacita yakni Allah sendiri. Semoga kitapun makin hari makin menjadi pribadi yg bersukacita.

Contemplating
Marilah kita heningkan jiwa, raga, rasa dan seluruh diri untuk makin menyatukan diri dengan Allah sumber sukacita.

Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin tenang, matang dan bersukacita dalam aneka realitas yg kita terima.

Reflecting
Apakah aneka pengalaman sulit telah mengajariku untuk tidak kehilangan sukacita hidup yg bersumber dari Tuhan.

Praying
Allah Bapa, berilah kami hati yg damai dan jiwa yg penuh sukacita,meskipun kami sering mengalami kekecewaan karena direndahkan,diabaikan, asal nama-Mu makin ditinggikan dan jalan keselamatan kami makin dilapangkan . Karena Kristus Tuhan kami Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP