SECERCAH HENING
Jumat, 13 Februari 2026

Mrk 7 : 31-37

*”Efata”*

Menyapa dalam senyap,
Celah hening usap gelap,
Meraba lmbut tuas harap
Pelangi tanpa batas atap

Mata gelap rindu senja,
Melambat ubah sapa,
Siluet cinta ubah duka
Buka nyanyian jiwa.

Efata ubah fatamorgana,
Pelangi di ujung mata,
Sempurna getarkan cinta
Riuh hembuskan surga.

Jika kita tidak mampu berkata kata dalam kebenaran, maka mendengarlah dengan segenap hati, maka yg gelap akan menjadi terang bagi kita. Jangan ragu mendengar suara batin di tengah riuhnya kehidupan ini.
Sering kita menyadari, manakala kita tidak bisa mendengarkan dengan baik, maka kitapun tidak bisa berkata-kata dengan benar. Dua indera ini menjadi sangat penting dan saling berkaitan ketika kita ingin menyingkapkan sebuah realitas menjadi sebuah kisah kehidupan.Pendengaran yg baik mampu memperdalam makna kata-kata yg akan kita ucapkan.sebaliknya keindahan kata-kata sebenarnya menyingkapkan suara-suara batin yg didengar dari kedalaman.Jika seseorang tidak mampu lagi mendengar maka sesungguhnya seseorang tak mampu pula berkata kata dengan benar, dan inilah penderitaan yg esensial. Maka sangat dimengerti jika Yesus dalam Injil hari ini tak menunda nunda waktu mengabulkan orang tuli dan gagap demikian :

Sesudah Yesus memisahkan orang tuli dan gagap dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata “efata” artinya terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya lalu ia berkata-kata dengan baik. Banyak orang takjub dan berkata:
“Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata”.

Metode penyembuhan yg dilakukan Yesus sangat mendasar, tak pernah menggunakan obat dosis tinggi, tetapi sentuhan personal dengan memasukkan jari ke telinga dan meraba lidah. Relasi personal dengan Yesus yg tak berjarak, tak bersyarat, tak beragat membuat penyembuhan itu sempurna seketika.Seruan “efata” terbukalah! bukan hanya membuka selaput telinga orang tuli dan lidah orang buta, tetapi lebih-lebih membuka kesadaran akan hadirnya sentuhan Yesus yg menguasai hidup mereka. Dan hidup mereka berubah mampu mendengar dengan nyaring, dan berkata-kata dengan benar. Jangan-jangan hidup kitapun saat ini menjadi tuli karena tak sanggup lagi mengasah pendengaran suara batin terdalam yakni suara kebenaran, menjadi bisu karena tak lagi mampu berkata-kata tentang dan dengan kebenaran. Karena suara hoak dan ujaran kebencian yg paling sering kita dengar dan katakan. Jika demikian sepantasnya kita belajar memohon rahmat “efata” bagi telinga dan hati kita, agar tiap saat mampu dibuka kesadaran kita untuk rela mendengar suara batin terdalam dan rela berkata-kata dengan dan tentang kebenaran sebagai buah dari suara kedalaman yg menginspirasi batin kita. Sehingga hidup kita siap diubah dan mengubah kenyamanan dari ketulian dan kebisuan menuju hidup yg baru.

*Contemplating*
Mari kita heningkan jiwa, raga, rasa dan kehendak kita untuk belajar mendengar suara Allah Allah dari batin terdalam.

*Actuating*
Membiasakan diri untuk memiliki pola dan gaya hidup yg menyediakan waktu personal mendegar suara Tuhan dalam keheningan.

*Reflecting*
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk terbuka dan rela memberikan waktu memaknai realitas dari telingan yg mendengar dan dari hati yg berkata kata tentang yg benar.

*Praying*
Allah Bapa kami berilah kami hati yg damai dan keterbukaan, untuk rela mendengarkan Engkau dalam hidup harian kami. Hingga kami layak menjadi pewarta sabdaMu yang meneguhkan penderitaan sesama.Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP