Refleksi Sr.M.Felicia,OP hari keempat perjalanan merenungkan konteks sejarah yang melandasi lahirnya kongregasi apostolik para suster
Hari ini kami mengikuti konferensi yang dibawakan oleh Sister Sabine Schratz OP, suster dominikan asal Jerman yang bertugas di Irlandia. Kami diajak untuk merenungkan konteks sejarah yang melandasi lahirnya kongregasi apostolik para suster dominikan.

Konferensi bersama Sister Sabine Schratz OP dari Irlandia
Pendirian biara Prouilhe dimotivasi oleh belas kasih Dominikus terhadapa sekelompok wanita Cathar yang bertobat berkat pewartaan Dominikus di Fanjeaux. Dominikus mempunyai dua pilihan: mengafiliasi mereka ke Ordo yang sudah ada, seperti Cistercian, atau mendirikan komunitas baru. Dominikus memilih opsi kedua. Reformasi biara San Sisto di Roma yang dilakukan Dominikus, sangat menentukan dalam perkembangan lebih lanjut bagi pertapaan Dominikan. Ordo ini berkembang menjadi apa yang telah lama dikenal sebagai “Ordo Kedua:” sebuah cabang kontemplatif dari komunitas-komunitas tertutup, dengan kaul yang khidmat, dan tugas berdoa untuk upaya Santo Dominikus dan para pengikutnya.
Pada tahun 1749, Benediktus XIV, dalam ensiklik “Quamvis iusto”, membuka jalan bagi pembentukan komunitas dengan kaul sederhana. Komunitas-komunitas ini kemudian disebut “Kongregasi” Pada tahun 1889, dekrit kepausan “Ecclesia catholica” akhirnya memperjelas status mereka dan memberi mereka persetujuan resmi sebagai kongregasi.
Kita adalah Suster Dominikan berdasarkan pengakuan dan afiliasi dari Master Jenderal Ordo Pengkhotbah, namun kita tidak berada di bawah yurisdiksinya. Kita semua otonom dan, tidak seperti saudara-saudara kita, kita terpecah-pecah. Banyaknya jumlah kongregasi suster dominikan dapat dijelaskan oleh fakta bahwa kongregasi tersebut didirikan secara mandiri atau terpisah di seluruh dunia.
Kita otonom namun dalam korelasi dan kesatuan sebagai Dominikan Sister Internasional dengan satu kharisma dominikan dan misi yang sama.

Sister Philar de Bario OP, koordinator Dominikan Sister Internasional benua Eropa, memimpin pleno
Selesai konferensi kami diajak untuk berdiskusi dalam kelompok kontinental untuk menyampaikan mimpi bersama sebagai Dominikan Sister Internasional. Setelah diskusi dalam kelompok, dilanjutkan pleno bersama untuk melihat bagaimana mimpi dari setiap benua. Banyak pleno, diskusi, dan refleksi mewarnai pertemuan kami di hari ini. Dengan mimpi bersama untuk berkolaborasi dalam formasi internasional bagi para suster, studi bahasa resmi ordo, kolaborasi dalam misi dan pewartaan bersama, membangun komisi internasional bagi para suster muda dominikan, memiliki rumah komunikasi, rumah pertemuan, dan rumah studi bersama di Roma sebagai Suster Dominikan Internasional.
Selesai diskusi, presentasi, dan pleno yang panjang, kami menutup malam hari dengan merenungkan bersama beberapa orang Kudus dominikan yang menjadi pelindung bagi misi di negara atau benua kami masing-masing. Para suster dari Amerika Latin mengajak kami merenungkan kehidupan dan pewartaan Santa Rosa de Lima. Para suster dari USA mengajak kami merenungakan Santo Martin de Porres yang menemani mereka berjuang terhadap ketidakadilan dan diskriminasi ras. Para suster dari benua Eropa mengajak kami merenungkan Santo Lacordaire yang hidup dan memperjuangkan misi dominikan di Prancis.

Selama pertemuan, kami menggunakan 3 bahasa resmi Ordo : Bahasa Inggris, Bahasa Spanyol, dan Bahasa Prancis

Refleksi menuliskan mimpi bersama sebagai Suster Dominikan Internasional
Relasi yang mendalam dengan Kristus membuat para kudus dominikan menjadi sosok sosok yang penuh cinta kasih, rendah hati, dan terus menyala dalam pewartaan sabda, dalam membagikan cinta kasih pada sesama serta segenap ciptaan. Itu juga panggilan kita, panggilan kongregasi kita, panggilan keluarga besar dominikan, panggilan suster dominikan internasional.

Sharing hasil refleksi dan diskusi





Recent Comments