DOMINICUS COLLEGE : ALLES VOOR GOD

Dominicus College, Nijmegen, Belanda
Sr. Felicia melakukan kunjungan penuh makna ke Dominicus College di Nijmegen, mengenang sejarah panjang dan warisan pendidikan yang telah dibangun oleh Pater Dominikus van Zeeland lebih dari 150 tahun yang lalu. Dominicus College Nijmegen didirikan pada tahun 1856 oleh Pastor Dominicus van Zeeland sebagai seminari kecil yang berlokasi di biara Dominika di Nijmegen. Pada tahun 1927, sekolah ini dipindahkan ke gedung baru di Neerbosch yang dirancang oleh Eduard Cuypers. Awalnya berfungsi sebagai sekolah berasrama untuk pelatihan spiritual, Dominicus College menerima perempuan pertama kali pada 1967, dan pada 1980-an, jumlah guru Dominikan berkurang. Setelah gedung sekolah dibongkar pada 1992, kecuali kapel yang kemudian hancur akibat kebakaran, sekolah ini bergabung dengan Komunitas Sekolah Nijmegen-West pada 1995. Pada 2003, sekolah ini menjadi berita setelah pembunuhan Maja Bradarić, dan pada 2007, dua siswa menciptakan HSA Square. Pada 2009, departemen Monnikskap pindah ke lokasi baru di Energieweg, dan pada 2016, sekolah merayakan ulang tahun ke-160. Berikut buah refleksi Sr.Felicia,OP:

Sr.Felicia,OP saat kunjungan di Dominicus College
Ditulis Oleh Sr. Felicia OP
Udara di Nijmegen pagi itu amat dingin, ketika aku dan Sr Catharina berjalan kaki menembus kabut dari Moederhuis menuju Dominicus College. Sejak aku tiba di Nijmegen untuk merayakan natal bersama para suster, suasana musim dingin terasa begitu syahdu. Entah karena langit mendung tanpa matahari beberapa hari ini, atau karena suhu dingin yang terus memeluk langkah di jalan – jalan penuh sejarah yang bermakna untuk kami, untuk kongregasi.
Ada haru ketika perlahan kakiku melangkah masuk dan berdiri di hadapan gedung Dominicus College yang besar dan luas itu. Haru, karena aku teringat kisah bagaimana Pater Dominikus van Zeeland meletakkan iman yang tangguh dan berani untuk menjawab keprihatinan dan kebutuhan nyata kala itu. Namun juga pilu ketika mendengar bahwa Dominicius College yang sudah berusia lebih dari 150 tahun ini, baru saja ditutup secara permanen tahun lalu.
Permulaannya sangat sederhana dan tidak disangka pada saat itu bahwa benih kecil ini akan tumbuh menjadi Dominicus College yang sangat besar, berusia lebih dari 150 tahun, dan menghasilkan banyak sekali imam, profesor, superior jendral, bahkan uskup. Sungguh sejarah berharga yang berkisah tentang bapa kami tercinta, Pater Dominikus van Zeeland.
Bermula pada tahun 1856 di biara, tempat Pater Dominikus van Zeeland tinggal sebagai Pastor Paroki di Nijmegen. Imam yang rajin dan saleh ini bersedia memberikan pelajaran privat bahasa latin kepada tiga orang muda dari Nijmegen yang merasakan panggilan untuk menjadi imam. Mereka adalah H. Rijnen, H. Joosten dan H. Ligtenberg. Di kemudian hari Rijnen menjadi Provinsial Ordo Dominikan Belanda dan menjadi Uskup. Demikian juga Joosten menjadi Vikaris Apostolik Antillen Belanda. Ketiganya adalah murid pertama Pater Dominikus Van Zeeland yang kelak menjadi tiga tokoh dominikan yang cukup berpengaruh di Belanda.
Secara administratif hukum, Pater Dominikus van Zeeland memang tidak punya wewenang untuk memberikan pengajaran formal. Namun mengingat kebutuhan akan pengajar maka ia menulis surat kepada pastor provinsial Raken di Rotterdam bahwa ia tidak merasa kesulitan. Ia menulis bahwa dapat memulai pengajaran di biara di Nijmegen dengan beberapa siswa saja untuk mengajar bahasa latin dan mempelajari lebih lanjut humaniora. Dengan iman yang tangguh dan berani, dengan pemberian diri untuk menjawab kebutuhan nyata, Pater Dominikus van Zeeland memulai dengan segala yang ada yang dapat ditempuh dan diberikan. Kemampuannya berbahasa latin, waktu dan kesediaan diri untuk mengajar, biara sebagai tempat yang tersedia walau terbatas, dan hati kebapakannya yang murah hati dalam mengasihi serta berbagi.
Pada tahun-tahun berikutnya benih yang dikeluarkan meningkat pertumbuhannya, mula-mula secara perlahan, kemudian dengan cepat. Tuntutan terhadap pelatihan para calon imam semakin meningkat, pendidikan tidak lagi terbatas pada bahasa latin, tetapi juga meluas ke mata pelajaran lainnya. Keinginan akan sekolah berasrama seperti seminari yang dapat menampung siswa dalam jumlah yang cukup menjadi semakin penting. Saat itu belum ada gedung sekolah definitif yang pernah dibangun, para siswa hanya ditampung di sana sini di sudut dan celah biara tua.
Jumlah siswa terus bertambah, maka didirikanlah gedung khusus, rencana studi diperluas dan lebih banyak guru diangkat. Beberapa saat kemudian, Pater Dominikus Van Zeeland, berhasil mendapatkan seorang guru awam, Mr. Draeck, yang ia tunjuk sebagai guru kedua. Sementara itu, Mr. Draeck juga telah berjasa untuk memperoleh akta utama, yang merupakan aset yang sangat penting bagi status legal sekolah tersebut. Mr Draeck melihat teladan kehidupan Pater Dominikus van Zeeland yang berkomitmen dalam iman dan pemberian diri, hingga ia sendiri akhirnya masuk menjadi anggota Ordo Dominikan dan menjadi Pastor Angelus Draeck. Setelah Pater Dominikus van Zeeland berpindah tugas ke Utrecht, Pastor Angelus Draeck melayani sekolah tersebut sebagai prefek di tahun-tahun berikutnya dan terus mengembangkan apa yang sudah dirintis oleh Pater Dominikus van Zeeland.
Jumlah siswa terus bertambah, gedung yang didirikan segera menjadi terlalu kecil. Oleh karena itu, pada tahun 1877, Pastor Rijnen, murid pertama Pater Dominikus van Zeeland yang saat itu menjadi Provinsial Ordo Dominikan Belanda meletakkan batu fondasi sebuah bangunan baru dan indah di Lange Nieuwstraat yang harus diperbesar kembali secara signifikan karena penambahan jumlah siswa pada tahun 1888.
Selama seratus tahun lebih keberadaannya, Dominicus College telah mendidik banyak siswa yang telah bekerja atau masih bekerja dengan baik di Belanda. Hampir semua imam dan uskup tahun 1870an telah menyelesaikan studi bahasa latin, humaniora, dan sekolah tata bahasa mereka di Dominicus College. Maka mereka patut berbangga dengan banyaknya imam dan religius yang baik yang telah dihasilkan Dominicus College dan bermisi di Belanda, Puerto Riko, Afrika Selatan, Bornholm, dan tempat lainnya bekerja demi kesempurnaan cinta kasih dan demi keselamatan umat Katolik yang dipercayakan kepada mereka.
Jika Pater Dominikus van Zeeland dapat melihat apa yang tumbuh besar dari aliran bahasa Latin primitif sederhana yang ia mulai, ia mungkin tidak pernah menduga akan berkembang sebesar itu dan bahkan sudah menghasilkan buah sebanyak itu. Baginya, apapun yang dapat ia kerjakan, ia lakukan dengan sepenuh hatinya, dengan segenap kekuatannya, dengan segenap akal budinya, dan semuanya untuk Tuhan. Alles voor God.
Sumber cerita sejarah :
Koran De Maasbode, 12 May 1956
Koran Amigoe di Curacao : weekblad voor de Curacaosche eilanden, 16 May 1956
Recent Comments