SECERCAH HENING
Kamis, 6 Maret 2025

Luk 9 : 22-25

“Jalan pengudusan”

Terantuk kabut dosa,
Terjerembab jalan nestapa,
Melukis luka tanpa makna,
Tergerus di jalan hampa.

Pelangi menari di sana,
Menebus titian dahaga,
Kaki terayun ditiap tangga,
Gapai singgasana surga.

Tak ada kebahagiaan didapat secara instan, Tak ada penderitaan tanpa makna,
Tak ada cinta tanpa pemberian diri, Tak ada kemuliaan tanpa jalan nestapa.
Artinya perjalanan hidup kita itu selalu menawarkan makna atau jalan pengudusan dibalik realitas, maka tak selamanya kesusahan hidup membuat orang menderita, dan tak selamanya kemudahan-kemudahan dan ketercukupan hidup membuat orang bahagia. Hal itu juga yg diajarkan Yesus kepada para murid yg mengikutiNya dalam Injil hari ini:

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku”.

Kita sering terjebak dalam hal-hal praktis dan duniawi dengan pola pikir yg keliru, jika kita mengikuti Kristus pasti akan hidup enak, sehat terus, bahagia, usaha lancar, hidup keluarga harmonis, anak-anak patuh dan membanggakan, disenangi banyak orang, mendapat aneka kemudahan, karena tak ada yg mustahil bagi Allah. Namun ternyata dalam perjalanan waktu, kita juga tak lepas mengalami aneka kegelapan hidup dalam aneka bentuk yg membuat kita mengeluh dan lebih fatal meninggalkan Tuhan. Kita lupa bahwa mengikuti Yesus konsekuensinya adalah memanggul salib setiap hari. Kata setiap hari menunjukkan bentangan waktu yg tiada batas, ajakan memanggul salib bukan kelak demi mendapatkan upah seratus kali lipat tetapi untuk ikut mengambil bagian hidup dalam Allah sendiri sedangkan kabaikan, kelimpahan dan berkat yg mengiringi hidup kita tiap hari bukanlah tujuan tetapi buah atau resonansi kebaikan Allah. Semoga undangan Yesus untuk mengikuti-Nya dengan rela memanggul salib tiap hari, menyadarkan kita akan jalan pengudusan yang ditunjukkan agar hidup kita makin mampu memaknai setiap penderitaan, tekanan dan kesulitan hidup setiap waktu dengan sabar, sikap penuh damai, rela memeluk setiap kesulitan dengan tabah tanpa mengurangi sukacita dan pengharapan, sebagai wujud kesanggupan kita hidup dalam Allah. Dengan makna yg demikian penderitaan yg kita tanggung tiap hari, mampu kita terima dan kita peluk erat menjadi saat hidup kita dimurnikan, dikuduskan, untuk layak hidup dalam Tuhan. Jangan kehilangan senyum pengharapan karena bagi hati yg percaya dan mencintaiNya, ia akan senantiasa di topang oleh bahu dan jemari Tuhan yang perkasa.

Contemplating
Marilah kita mengheningkan hati,budi, jiwa dan seluruh diri sampai hati kita menemukan kedamaian.

Actuating
Membiasakan diri hidup yg penuh harapan untuk sanggup memeluk derita tiap waktu.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin hidup dalam semangat Tuhan.

Praying
Allah Bapa kami, berilah kami hati yg damai dan penuh pengharapan, agar sanggup menyelami salib dan kenyataan hidup setiap hari, sebagai jalan pemurnian untuk bisa mengalami hidup dalam Tuhan.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP