SECERCAH HENING
Minggu, 9 Maret 2025

Luk 4:1-13

“Padang Gurun”

Dia titip harapan dalam tawa,
Jernihkan dalam tetes air mata,
Jiwa tngguh dalam aneka duka
Padang gurun matangkan jiwa.

Kadang kita gelisah dan takut memasuki padang gurun hidup kita, namun dengan keberanian iman, Roh kudus menyanggupkan kita melewatinya dengan lebih tangguh. Seperti telah diteladankan oleh Yesus sebelum memulai karyaNya Ia melewati saat – saat padang gurun yg berat seperti dalam Injil hari ini:

“Sekali peristiwa, Yesus yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai iblis”.

Dalam setiap titik batas kehidupan, yang mengambil bentuk : kesulitan, kegelapan, kekeringan, tekanan dan penderitaan selalu ada dua sisi. Sisi membahayakan atau sisi menyelamatkan. Sisi membinasakan atau sisi menghidupkan. Sisi berkubang mandeg dalam kerapuhan atau sisi berubah yg membuat kita matang dan tangguh. Pilihan selalu ada pada sikap batin kita. Di padang gurun Yesus juga hidup diantara binatang-binatang liar atau iblis dan malaikat. Sisi yang mana kita akan berbelok dan mempengaruhi, akan tergantung dari sikap batin kita sendiri. Jika kita memiliki jalinan hati yg kuat dengan Allah dalam Roh yg diam di hati kita, maka kita otomatis akan dituntun pada pengaruh malaikat. Sebaliknya jika hubungan hati kita jauh dari Allah, maka kita akan mudah tervibrasi dalam pelukan binatang liar dan manifestasinya. Binatang liar bukan soal binatang dalam arti harfiah tetapi manifestasi kejahatan yg meminjam naluri binatang yg bisa membinasakan hidup kita. Maka kita perlu melatih kelembutan hubungan kasih dengan Allah. Sebagaimana Allah selalu lembut hadir memeluk kita lewat pengalaman apapun.
Kasih Allah sering menumpang dalam aneka kerapuhan kita, dengan memberikan sayup sayup harapan di tengah keputusasaan. CintaNya juga lembut menyapa lewat setiap air mata yg jatuh saat duka, kecemasan, kekecewaan dengan memberikan kedipan kesegaran pandangan, yg membuat kita berani bangkit. Yakinlah bahwa dalam setiap padang gurun hidup, selalu ada malaikat yg menguatkan. Mari jangan takut jadikan masa tobat ini saat memurnikan padang gurun hidup, dengan langkah-langkah kecil yg menjadikan malaikat itu nyata dalam setiap tindakan baik kita.

Contemplating
Marilah kita mengheningkan seluruh indera kita agar makin peka dituntun Roh Tuhan di jalan pengudusan.

Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan atau kuubah agar makin peka membuat pilihan sikap yg tepat selaras dengan bimbingan Roh.

Reflecting
Apakah hidupku banyak ditentukan oleh gaya relasiku Allah. Atau oleh menafestasi kejahatan yg lembut lewat kata dan tindakan kita.

Praying
Allah Bapa kami, lembutkanlah kekerasan hati kami, agar hati dan jiwa kami mudah dibentuk oleh kuasa Roh-Mu, sehingga kami mampu melewati padang gurun hidup dengan lebih tangguh. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP