SECERCAH HENING
Rabu, 15 Januari 2025

Mrk 1:29-39

“Merayakan hidup”

Terjebak dalam lelahmu,
Malam bkn saat tidurmu,
Terseok oleh bebanmu,
Terpeluk oleh sapaMu.

Merindu dlm titian waktu,
Tersapu oleh galauku,
Sakitku adl saat sapaMu,
Senjaku jadi saat pagiMu

Hidup yg sejati merupakan rangkaian kisah memeluk aneka tawa dari rentetan duka, sehat dalam memaknai saat-saat sakit, kesuksesan dari mengolah kegagalan bahkan mungkin sukacita yg mengalir dari perasan air mata. Demikian juga para murid perdana, meski kebersamaan dengan Yesus memudahkan mereka bisa dibebaskan dari aneka derita hidup. Namun dalam prosesnya mereka harus mampu mengolah aneka kisah suka,duka,derita dan bahagia sebagai bagian dari hidup yg layak dirayakan. Seperti dikisahkan dalam Injil hari ini:

Sekeluarnya dari rumah ibadat di Kapernaum,Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas.Ibu mertua Simon sakit demam. Setelah mereka memberitahukannya kepada Yesus, Yesus membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Setelah itu berkerumunlah banyak orang yg menderita bermacam-macam penyakit untuk disembuhkan dan diusirnya banyak setan”.

Peristiwa penyembuhan yg dialami oleh ibu mertua simon dan semua orang sakit dan kerasukan setan merupakan mujizat, namun bukan hal itu yg utama. Tetapi sukacita sejati dalam setiap pengalaman penderitaan, kesengsaraan dan duka adalah ketika akhirnya Tuhan menjamah dan melawat hadir dihadapan nya secara nyata. Pengalaman semacam itu perlu dirayakan, yg bagi ibu mertua simon kemudian diungkapkan dengan melayani mereka setelah sembuh. Hidup kita setiap hari tak jarang juga banyak kali mengalami penderitaan akibat sakit, terluka, beban yg berat tetapi jika akhirnya pada satu titik kita mengalami disapa oleh Tuhan melalui pengalaman peneguhan dari sesama, kita mengalami sukacita yg layak kita rayakan.Dan jika kita terbuka bisa jadi setiap moment adalah saat kita disapa Tuhan, bukan hanya soal pengalaman heroik berupa sukses, pujian,penghargaan tetapi bahkan mungkin pengalaman jatuh dan terpuruk menjadi saat Tuhan menyapa yg perlu dirayakan dengan sikap syukur yg tiada berujung.

Contemplating
Marilah kita heningkan jiwa, raga, rasa dan seluruh diri untuk menyelami samodra kehidupan Allah.

Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin merayakan hidup dalam aneka kisah hidup tiap hari.

Reflecting
Apakah aneka pengalaman hidup setiap hari mengantarkanku pada pengalaman di sapa oleh Allah.

Praying
Allah Bapa kami,berilah kami damai,sukacita dan rahmat-Mu, agar tiap hari kami boleh mendengar dan menanggapi panggilan-Mu dalam hidup harian kami. Hingga setiap hari adalah saat yg tepat untuk merayakan hidup karena mengikuti Kristus Tuhan kami Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP