SECERCAH HENING
Sabtu, 2 Agustus 2025

Mat 14: 1-12

*”Perintis atau Pewaris”*

Kepapan yg mengada,
Menapaki lembah yg fana,
Suara keheningan yg terbuka
Kebenaran tersapa.

Lembut di kala senja,
Bersimpuh lelah bersama,
Mengayuh damai di asa,
Surga menanti dgn segera.

Akhir akhir ini kata pewaris dan perintis menjadi viral dan sangat akrab dalam media sosial kita, karena unggahan seorang anak Ryu Kintaro usia 10 yang telah sukses menjadi youtuber dan banyak memberi motivasi tentang asyiknya menjadi perintis dari pada menjadi pewaris yg hidup di zona nyaman. Keseruan menjadi perintis karena tantangan yg dihadapinya. Yohanes dalam Injil hari juga dikenal sebagai perintis. Namun esensi perintis bagi Yohanes bukan soal suskses meraup keuntungan bagi diri dan masa depannya. Tetapi perintis untuk jalan keselamatan yg harus mengorbankan dirinya sendiri. Semangat kemartiran menjadi kunci bagi jiwa perintisnya.
Seperti dalam Injil hari ini:

“Inilah Yohanes Pembabtis, ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya”.

Kita ingat dalam kisah Injil disampaikan bahwa Yohanes Pembabtis dibunuh karena keberaniannya menyuarakan kebenaran dan keadilan yang identik dengan melawan kekuasaan raja Herodes. Keberanian seperti ini juga menjadi ciri dan karakter murid perdana Yesus. Seperti Yohanes mereka mengikuti teladan Yesus Sang guru yang juga menjadi korban ketidakadilan. Semangat kemartiran Yohanes hendaknya juga menjadi semangat pengikut Kristus zaman ini. Berani menyuarakan kebenaran dan keadilan di tengah masyarakat. Saat ini semangat kemartiran kristiani semakin redup. Maka Gereja dan para pemimpin religiuspun tengah menggerakkan para anggota untuk menjadi mistikus dan nabi di tengah Gereja dan masyarakat. Dengan dibabtis kita semua diundang Yesus dalam peran apapun untuk memiliki semangat kemartiran yaitu berjuang mengupayakan hidup yang benar di tengah lingkup kehidupan kita sesederhana apapun yakni di dalam lingkungan kerja, masyarakat dan dimanapun kita berada. Semangat kemartiran Yohanes mengobarkan semangat kita untuk hidup benar dan memperjuangkan kebenaran.Panggilan kebenaran kadang mengambil bentuk yg simple, yang meminta kita keluar dari kenyamanan diri, ego, dan kerapuhan diri yg sering menjadi tempat berlindung yg nyaman bagi diri kita sendiri. Mari jangan takut untuk lelah dan bermati raga keluar dan berpeduli sekecil apapun yg bisa kita buat. Mari bertumbuh dalam keheningan yg memungkinkan kita mengalami kedamaian dan sukacita yg kita bagikan dalam senyuman dan sapaan kecil yg membasahi hati yg tandus dan mengering.

*Contemplating*
Marilah kita satukan jiwa, raga, rasa dalam keheningan,rasakan dan kenali cara Tuhan menuntun kita untuk berani memperjuangkan kebenaran.

*Actuating*
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin peka terhadap undangan untuk bersaksi tentang kebenaran.

*Reflecting*
Apakah aneka pengalaman sulit telah mengajariku makin berani memperjuangkan kebenaran.

*Praying*
Allah Bapa, berilah kami rahmat-Mu untuk berani hidup benar dan memerjuangkan keadilan dan kebenaran dalam hidup kami demi Kristus Tuhan kami Amin.

Salve
Salam Veritas
Sr. Albertine. OP